Menurut analisis Supply Chain Indonesia (SCI) atas data Badan Pusat Statistik, sektor transportasi dan pergudangan diproyeksikan menyumbang sekitar Rp1.703 triliun terhadap PDB nasional pada 2026, tumbuh sekitar 9,3% dibanding tahun sebelumnya yang melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Ada beberapa sektor yang menjadi penggerak utama. Industri pengolahan, khususnya makanan dan minuman, terus mencatat kenaikan permintaan baik di pasar domestik maupun ekspor. Selain itu, kebutuhan logistik dari sektor kimia, farmasi, elektronik, logam, tekstil, dan alat transportasi juga diperkirakan meningkat seiring aktivitas produksi yang menggeliat.
Aktivitas perdagangan, baik domestik maupun lintas negara, turut menjadi pendorong utama yang mendorong kebutuhan distribusi barang yang makin cepat dan efisien. E-commerce menambah tekanan permintaan tersendiri, terutama pada layanan pengiriman last-mile dan fulfillment center, seiring konsumen yang makin mengutamakan kecepatan.
Di luar sektor perkotaan, aktivitas pertanian, kehutanan, dan perikanan juga ikut mendorong kebutuhan transportasi barang serta fasilitas penyimpanan modern, termasuk cold storage untuk menjaga kualitas komoditas segar.
Di balik proyeksi positif ini, sejumlah persoalan mendasar masih membayangi. Ketidakpastian ekonomi global mulai dari ketegangan geopolitik, perang dagang, hingga gangguan rantai pasok internasional tetap berpotensi menekan biaya logistik dan arus perdagangan dunia.
Di dalam negeri, tantangan konektivitas infrastruktur, kecepatan pengiriman, serta sistem pelacakan barang masih jadi pekerjaan rumah. Berdasarkan Logistics Performance Index (LPI) 2023 yang dirilis Bank Dunia, Indonesia mencatat skor 3,0 dan menempati peringkat sekitar ke-61 dari 139 negara yang disurvei turun dibandingkan posisinya pada 2018. Meski berada di atas rata-rata negara berpendapatan menengah atas, posisi Indonesia masih tertinggal dari negara ASEAN lain seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand, terutama pada aspek kualitas layanan logistik dan sistem tracking barang.
Pemerintah terus mendorong transformasi sektor ini lewat pengembangan National Logistics Ecosystem (NLE), sebuah platform yang menyatukan layanan logistik dari hulu ke hilir agar proses distribusi lebih efisien, transparan, dan terkoordinasi. Pembangunan infrastruktur, jalan tol, pelabuhan, bandara, hingga jaringan kereta logistik juga terus berjalan untuk memperkuat konektivitas antar wilayah.
Kombinasi digitalisasi dan pembangunan fisik ini diharapkan mampu mempercepat waktu distribusi, menekan biaya logistik nasional, dan meningkatkan kualitas layanan bagi pelaku usaha di berbagai skala. Pertumbuhan industri logistik yang positif membuka peluang sekaligus menuntut kesiapan lebih dari seluruh pelaku usaha di sektor ini. Untuk tetap kompetitif, perusahaan logistik perlu terus memperkuat efisiensi operasional, memanfaatkan teknologi secara maksimal, dan menghadirkan inovasi layanan yang relevan dengan kebutuhan klien yang terus berkembang.
#selaraslogistics #industrilogistik #logistikindonesia #tantanganlogistik