Berdasarkan perhitungan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bersama BPS dan Bappenas, rasio biaya logistik nasional terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di kisaran 14,29% jauh di atas rata-rata. Negara maju yang umumnya berkisar 8 - 10%. Dari angka tersebut, komponen transportasi menyumbang porsi terbesar 8,79 %, disusul pergudangan 3,19% dan biaya administrasi 2,30%.
Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan rantai distribusi yang jauh lebih rumit dibanding negara dengan wilayah daratan yang menyatu. Kualitas infrastruktur yang belum merata antar wilayah, konektivitas antar moda transportasi yang belum optimal, serta proses logistik yang masih terfragmentasi turut memperbesar biaya operasional di setiap titik rantai pasok, bukan hanya di pelabuhan melainkan dari pengambilan barang hingga pengiriman akhir.
Ketergantungan pada bahan baku impor juga memperparah tekanan ini. Ketika bahan baku harus melalui proses impor, penyimpanan, dan distribusi lewat sistem logistik yang mahal, biaya produksi ikut membengkak berlapis-lapis. Akibatnya, meski kualitas produk Indonesia bersaing di pasar global, ongkos untuk memindahkannya sering kali membuat pembeli internasional beralih ke pemasok lain yang lebih efisien.
Fluktuasi harga energi menambah tekanan lain. Kenaikan harga bahan bakar langsung berimbas pada tarif angkutan darat, laut, hingga sewa gudang, sesuatu di negara kepulauan seperti Indonesia hampir selalu berujung pada naiknya biaya logistik secara keseluruhan.
Fenomena ini menjelaskan kenapa surplus dagang Indonesia selama ini terkesan rapuh. Ketika volume ekspor melambat atau harga komoditas global tertekan, biaya distribusi yang tinggi membuat daya saing harga langsung terkoreksi, terutama untuk produk bernilai tambah rendah hingga menengah yang sangat sensitif terhadap ongkos angkut, waktu tempuh, dan kepastian layanan. Dengan kata lain, surplus yang selama ini terlihat solid sebagian besar masih ditopang oleh harga komoditas, bukan oleh efisiensi sistem logistik itu sendiri.
Pada akhirnya, surplus dagang yang berkelanjutan tidak akan lahir dari angka-angka di atas kertas, melainkan dari pembenahan sistem logistik nasional secara menyeluruh sebagai fondasi daya saing, bukan sekadar catatan teknis di sektor transportasi.
#selaraslogistics #greenlogistics #biayalogistik